pilek sulit berkonsentrasi karena flu membuat hidung Anda meler alias terus mengeluarkan lendir? Gampang. Coba taburkan bubuk kayu manis pada roti bakar atau masukkan batang kayu manis pada teh hangat Anda.
Kayu manis adalah astringent yang membantu mengeringkan lendir berlebihan di dalam paru dan saluran hidung. Selain itu, kayu manis juga meningkatkan sirkulasi darah sehingga tangan dan kaki terasa hangat.
Sabtu, 30 Agustus 2008
Jumat, 29 Agustus 2008
Jangan Sembarangan Ngomongin Pasangan
Kalau sudah bertemu teman, apalagi teman lama yang sudah sekian waktu tak berjumpa, kadang mulut kita tak bisa direm untuk bercerita perihal keluarga. Buntutnya, cerita pun merembet ke masalah pribadi kita dan pasangan.
Saat ngrumpi, sih, terasa enteng-enteng saja. Tapi setelah tiba di rumah, tak jarang timbul penyesalan, "Kok tadi aku gampang banget, ya, mengobral rahasia pada teman? Aduh, jangan-jangan nanti dia nyebarin cerita itu ke mana-mana!" Begitu, bukan, yang kerap terjadi?
Tentu sah-sah saja kita membicarakan masalah pribadi pada teman. Bagaimanapun, setiap orang butuh "curhat" alias curahan hati. Namun, seperti dikatakan Zamralita, S. Psi., kita harus tahu batas-batasnya. "Tak semua permasalahan layak untuk dibicarakan pada orang lain," ujar dosen di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta ini.
Jadi, kalau cuma soal pekerjaan, hobi, asal-muasal pasangan atau cara kita ketemu pasangan, menurut psikolog yang akrab dipanggil Lita ini, tak apa-apa diomongin dengan orang lain. Namun kalau masalahnya berkaitan dengan seksual, entah itu tentang kebiasaan pasangan dalam berhubungan maupun kekurangannya dan sebagainya, "Sungguh tak pantas dibicarakan kepada orang lain," tukas Lita.
Masalah yang juga tabu untuk "disebarluaskan" adalah soal keuangan. Misalnya, gaji kita lebih besar daripada suami. Begitu juga soal kebiasaan-kebiasaan buruk pasangan semisal jorok, pembohong, suka berjudi, dan lainnya. Selain itu,masa lalu yang buruk dari pasangan juga pantang dirumpiin. Pokoknya, tandas Lita, kalau sudah menyangkut hal pribadi pasangan, keluarga pasangan atau yang menyinggung harga dirinya, "Sebaiknya kita harus mengerem mulut. Apalagi kalau kita 'mengumbar' cerita tersebut dengan maksud mentertawakan atau menjelekkan pasangan."
Namun bukan berarti kita tak boleh sama sekali membicarakan hal-hal sensitif tersebut. Yang penting, kata Lita, harus ada tujuannya. "Kalau hanya sekadar mengumbar cerita, buat apa? Enggak ada gunanya, kan?" Lain halnya bila kita bertujuan mencari solusi, melengkapi informasi atau untuk meyakinkan diri. Misalnya, "Apakah yang dilakukan suamiku itu juga dilakukan pula oleh suami yang lain?" Atau, "Bagaimana, sih, cara mengatur uang belanja dengan bijak."
Juga jika tujuannya adalah untuk menolong teman. Misalnya, si teman minta saran atas masalahnya. Nah, bolehlah kita membeberkan pengalaman pribadi, walaupun permasalahannya itu sensitif. Sebab, kita menceritakan hal itu bukan dalam arti negatif, tapi untuk memberi solusi pada si teman.
Yang juga harus diperhatikan ialah siapa orang yang diajak bicara. Jangan sampai si teman ternyata bermulut "ember" alias gemar menyebar-luaskan rahasia orang. Sehingga begitu kita ada apa-apa dengan pasangan, orang langsung akan menduga, "Wah, pasti gara-garanya hal itu, deh, sehingga mereka sampai retak." Padahal, belum tentu juga, kan? Karena itu, seperti disarankan Lita, "Pilih teman yang benar-benar bisa dipercaya, yang tak bakal membocorkan rahasia kita. Juga yang sekiranya bisa memberikan solusi atau jalan keluar dari masalah kita."
Saat ngrumpi, sih, terasa enteng-enteng saja. Tapi setelah tiba di rumah, tak jarang timbul penyesalan, "Kok tadi aku gampang banget, ya, mengobral rahasia pada teman? Aduh, jangan-jangan nanti dia nyebarin cerita itu ke mana-mana!" Begitu, bukan, yang kerap terjadi?
Tentu sah-sah saja kita membicarakan masalah pribadi pada teman. Bagaimanapun, setiap orang butuh "curhat" alias curahan hati. Namun, seperti dikatakan Zamralita, S. Psi., kita harus tahu batas-batasnya. "Tak semua permasalahan layak untuk dibicarakan pada orang lain," ujar dosen di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta ini.
Jadi, kalau cuma soal pekerjaan, hobi, asal-muasal pasangan atau cara kita ketemu pasangan, menurut psikolog yang akrab dipanggil Lita ini, tak apa-apa diomongin dengan orang lain. Namun kalau masalahnya berkaitan dengan seksual, entah itu tentang kebiasaan pasangan dalam berhubungan maupun kekurangannya dan sebagainya, "Sungguh tak pantas dibicarakan kepada orang lain," tukas Lita.
Masalah yang juga tabu untuk "disebarluaskan" adalah soal keuangan. Misalnya, gaji kita lebih besar daripada suami. Begitu juga soal kebiasaan-kebiasaan buruk pasangan semisal jorok, pembohong, suka berjudi, dan lainnya. Selain itu,masa lalu yang buruk dari pasangan juga pantang dirumpiin. Pokoknya, tandas Lita, kalau sudah menyangkut hal pribadi pasangan, keluarga pasangan atau yang menyinggung harga dirinya, "Sebaiknya kita harus mengerem mulut. Apalagi kalau kita 'mengumbar' cerita tersebut dengan maksud mentertawakan atau menjelekkan pasangan."
Namun bukan berarti kita tak boleh sama sekali membicarakan hal-hal sensitif tersebut. Yang penting, kata Lita, harus ada tujuannya. "Kalau hanya sekadar mengumbar cerita, buat apa? Enggak ada gunanya, kan?" Lain halnya bila kita bertujuan mencari solusi, melengkapi informasi atau untuk meyakinkan diri. Misalnya, "Apakah yang dilakukan suamiku itu juga dilakukan pula oleh suami yang lain?" Atau, "Bagaimana, sih, cara mengatur uang belanja dengan bijak."
Juga jika tujuannya adalah untuk menolong teman. Misalnya, si teman minta saran atas masalahnya. Nah, bolehlah kita membeberkan pengalaman pribadi, walaupun permasalahannya itu sensitif. Sebab, kita menceritakan hal itu bukan dalam arti negatif, tapi untuk memberi solusi pada si teman.
Yang juga harus diperhatikan ialah siapa orang yang diajak bicara. Jangan sampai si teman ternyata bermulut "ember" alias gemar menyebar-luaskan rahasia orang. Sehingga begitu kita ada apa-apa dengan pasangan, orang langsung akan menduga, "Wah, pasti gara-garanya hal itu, deh, sehingga mereka sampai retak." Padahal, belum tentu juga, kan? Karena itu, seperti disarankan Lita, "Pilih teman yang benar-benar bisa dipercaya, yang tak bakal membocorkan rahasia kita. Juga yang sekiranya bisa memberikan solusi atau jalan keluar dari masalah kita."
Tips Menjadi Suami Sempurna
Berikut ini sejumlah hal sederhana yang sebaiknya dibaca dan dilakukan pria untuk menjadi suami sempurna di mata istri.
1. Mengerti Pentingnya Perkawinan
Bila Anda sungguh-sungguh ingin menjadi suami atau pasangan seumur hidup, maka camkan dalam pikiran Anda untuk melakukan apa pun agar perkawinan tetap terjaga utuh.
2. Jauhkan Si Pengganggu
Jauhkan orang-orang yang akan mengganggu perkawinan Anda. Anda dan pasangan kini menjadi satu, dan jika secara konsisten ada orang lain yang tidak menghormati pasangan, artinya ia sedang berusaha merusak perkawinan Anda!
3. Mengerti Posisi Kepala Rumah Tangga
Berada di posisi kepala keluarga, menjaga keharmonisan rumah tangga dan keluarga merupakan tanggung jawab Anda. Bila Anda percaya pada Sang Pencipta, maka Ia akan selalu membantu Anda dalam mengambil keputusan tepat bagi keluarga.
4. Dampak Keputusan
Keputusan yang Anda ambil akan berdampak tak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada keluarga. Jadi, tanamkan pada diri Anda untuk selalu mengambil keputusan positif demi keluarga.
5. Memaafkan
Maafkanlah diri sendiri untuk kesalahan di masa lalu, dan tanamkan pada diri untuk melakukan segala hal dengan benar sehingga Anda bisa mengambil keputusan yang lebih baik.
6. Jujur & Terbuka
Bersikaplah jujur dan melakukan hal yang benar bagi diri sendiri dan istri untuk berbagai masalah. Bahkan, di saat Anda melakukan kesalahan, pasangan dan orang lain cenderung akan lebih memaafkan dan menghargai bila Anda selalu bersikap jujur dan berterus terang.
7. Dengarkan Istri dengan Tulus
Sebagian besar wanita memang senang mengobrol. Bila seorang istri sedang bercerita, pada umumnya ia hanya ingin didengar dan dimengerti. Ia tak selalu memerlukan saran Anda sebagai suaminya. Yang ia perlukan adalah pengakuan, pengertian, dan tentu saja cinta.
8. Urus dan Rawat Keluarga
Lindungi keluarga Anda. Ingat, Anda adalah kepala rumah tangga. Bila Anda ingin dihormati sebagai kepala keluarga, Anda harus bisa memperlihatkan sikap yang pantas untuk dihormati dan mengurus keluarga dengan benar.
1. Mengerti Pentingnya Perkawinan
Bila Anda sungguh-sungguh ingin menjadi suami atau pasangan seumur hidup, maka camkan dalam pikiran Anda untuk melakukan apa pun agar perkawinan tetap terjaga utuh.
2. Jauhkan Si Pengganggu
Jauhkan orang-orang yang akan mengganggu perkawinan Anda. Anda dan pasangan kini menjadi satu, dan jika secara konsisten ada orang lain yang tidak menghormati pasangan, artinya ia sedang berusaha merusak perkawinan Anda!
3. Mengerti Posisi Kepala Rumah Tangga
Berada di posisi kepala keluarga, menjaga keharmonisan rumah tangga dan keluarga merupakan tanggung jawab Anda. Bila Anda percaya pada Sang Pencipta, maka Ia akan selalu membantu Anda dalam mengambil keputusan tepat bagi keluarga.
4. Dampak Keputusan
Keputusan yang Anda ambil akan berdampak tak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada keluarga. Jadi, tanamkan pada diri Anda untuk selalu mengambil keputusan positif demi keluarga.
5. Memaafkan
Maafkanlah diri sendiri untuk kesalahan di masa lalu, dan tanamkan pada diri untuk melakukan segala hal dengan benar sehingga Anda bisa mengambil keputusan yang lebih baik.
6. Jujur & Terbuka
Bersikaplah jujur dan melakukan hal yang benar bagi diri sendiri dan istri untuk berbagai masalah. Bahkan, di saat Anda melakukan kesalahan, pasangan dan orang lain cenderung akan lebih memaafkan dan menghargai bila Anda selalu bersikap jujur dan berterus terang.
7. Dengarkan Istri dengan Tulus
Sebagian besar wanita memang senang mengobrol. Bila seorang istri sedang bercerita, pada umumnya ia hanya ingin didengar dan dimengerti. Ia tak selalu memerlukan saran Anda sebagai suaminya. Yang ia perlukan adalah pengakuan, pengertian, dan tentu saja cinta.
8. Urus dan Rawat Keluarga
Lindungi keluarga Anda. Ingat, Anda adalah kepala rumah tangga. Bila Anda ingin dihormati sebagai kepala keluarga, Anda harus bisa memperlihatkan sikap yang pantas untuk dihormati dan mengurus keluarga dengan benar.
Langganan:
Postingan (Atom)
