Tambahkan saja perasan buah-buahan ke dalam air tersebut.
Bagi banyak orang, minum air putih 8 gelas sehari (bahkan lebih) sudah jadi kebiasaan. Bagi orang yang lain, minum air putih bisa begitu menyiksa. Ada yang merasa mual ketika langsung meminum segelas air putih, ada pula yang memang lebih suka minum teh atau minuman berwarna lainnya.
Untuk Anda yang ingin bertekad membiasakan minum air putih, ada cara untuk membuat air putih menjadi lebih "nyes" saat diminum. Berikut beberapa cara yang bisa Anda pakai:
1. Atur panas-dinginnya
Memang ada orang yang lebih suka air putih hangat, namun air dingin memang masih jadi selera terbanyak. Anda tak harus membeli air mineral kemasan yang hanya didistribusikan di hotel-hotel untuk mendapatkan air yang rasanya lebih nikmat. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa air yang disimpan dalam kendi lebih terasa segar daripada air yang disimpan di kulkas. Jika tak ada kendi, simpan saja pitcher air putih ke dalam lemari es.
2. Saring airnya
Ada beberapa produk penyimpan air yang dilengkapi sistem penyaringan. Sistem ini akan mengurangi endapan, parasit, rasa klorin, dan aroma kurang sedap dari air keran.
3. Murnikan airnya
Bila ada uang lebih, Anda bisa membeli pitcher dengan water-purifer. Sistem pemurnian airnya ini adakan menyaring air keran biasa (yang sudah dimasak) menjadi air minum murni yang jernih dan bersih.
4. Tambahkan flavor
Air putih biasa mungkin akan membosankan. Tetapi bila membeli produk air mineral dengan cita rasa jeruk atau strawberry, kadang-kadang rasanya justru seperti sirup. Yang enak adalah menambahkan perasan buah segar ke dalam air putih, seperti perasan sitrun, jeruk nipis, timun, atau ceri.
5. Tambahkan es batu beraroma
Sebagai finishing, cemplungkan beberapa es batu di sana. Es batu di sini bukan es batu biasa. Anda bisa membekukan air perasan jeruk ke dalam cetakan es, lalu menyimpannya di freezer. Setelah jadi es, masukkan ke dalam gelas air putih Anda. Segar!
DIN
Selasa, 23 Februari 2010
Cara Cepat Mengatasi Morning Sickness
Jahe, salah satu penghilang rasa mual dan eneg bagi ibu hamil.
Trimester pertama adalah saat paling menyulitkan bagi ibu hamil. Sebab saat itu morning sickness atau mual-muntah di pagi hari sedang parah-parahnya. Tak jarang, tidak ada satu makanan pun yang sanggup Anda telan. Jangankan nasi, makanan kecil pun sulit untuk Anda kunyah.
Namun bila Anda ingin cara lain untuk mengatasi morning sickness, trik yang ditawarkan oleh ParentsConnect.com ini bisa Anda coba:
1. Utamakan makanan berkarbohidrat yang ringan, seperti keripik kentang, biskuit sayur, atau biskuit beraroma lemon yang akan membuat rasa eneg menghilang. Makanan ini kaya akan gula penghasil energi, serta kalori yang dibutuhkan oleh tubuh. Usai makan keripik kentang, minumlah air jeruk manis. Kombinasi asin-asam ini bisa mengenyahkan rasa mual.
2. Makan makanan yang mengandung jahe, karena jahe punya rasa pedas yang akan menghilangkan rasa mual. Anda bisa mencoba memasukkan sepotong jahe dalam sup. Mengudap biskuit jahe atau permen jahe juga boleh dilakukan.
3. Vitamin B6 (harus dengan resep dokter), yang biasanya diajurkan untuk kehamilan trimester pertama dengan gejala morning sickness yang parah.
4. Minyak lavender atau minyak lemon. Masukkan kedua jenis minyak esensial ini ke dalam botol kecil untuk dihirup saat Anda merasa mual, atau usapkan sedikit di pergelangan tangan. Aromaterapi bisa membuat Anda dan perut Anda rileks.
5. Bedakan saat minum dan makan. Memang Anda harus minum air putih minimal 8 gelas per hari. Namun Anda tidak harus meminumnya bersamaan saat makan. Kadang-kadang mual bisa dihindari dengan mengganti minuman dengan makanan. Atau, minumlah satu jam sebelum atau sesudah makan.
6. Makan makanan berkarbohidrat. Bentuknya tidak harus nasi, tetapi juga biskuit, roti bakar, atau sereal kering.
7. Siapkan es, air dan perasan jeruk lemon, kemudian blender. Minuman ini bisa menghilangkan dehidrasi; selain itu efek lemon juga menghilangkan rasa mual karena rasa asamnya.
Trimester pertama adalah saat paling menyulitkan bagi ibu hamil. Sebab saat itu morning sickness atau mual-muntah di pagi hari sedang parah-parahnya. Tak jarang, tidak ada satu makanan pun yang sanggup Anda telan. Jangankan nasi, makanan kecil pun sulit untuk Anda kunyah.
Namun bila Anda ingin cara lain untuk mengatasi morning sickness, trik yang ditawarkan oleh ParentsConnect.com ini bisa Anda coba:
1. Utamakan makanan berkarbohidrat yang ringan, seperti keripik kentang, biskuit sayur, atau biskuit beraroma lemon yang akan membuat rasa eneg menghilang. Makanan ini kaya akan gula penghasil energi, serta kalori yang dibutuhkan oleh tubuh. Usai makan keripik kentang, minumlah air jeruk manis. Kombinasi asin-asam ini bisa mengenyahkan rasa mual.
2. Makan makanan yang mengandung jahe, karena jahe punya rasa pedas yang akan menghilangkan rasa mual. Anda bisa mencoba memasukkan sepotong jahe dalam sup. Mengudap biskuit jahe atau permen jahe juga boleh dilakukan.
3. Vitamin B6 (harus dengan resep dokter), yang biasanya diajurkan untuk kehamilan trimester pertama dengan gejala morning sickness yang parah.
4. Minyak lavender atau minyak lemon. Masukkan kedua jenis minyak esensial ini ke dalam botol kecil untuk dihirup saat Anda merasa mual, atau usapkan sedikit di pergelangan tangan. Aromaterapi bisa membuat Anda dan perut Anda rileks.
5. Bedakan saat minum dan makan. Memang Anda harus minum air putih minimal 8 gelas per hari. Namun Anda tidak harus meminumnya bersamaan saat makan. Kadang-kadang mual bisa dihindari dengan mengganti minuman dengan makanan. Atau, minumlah satu jam sebelum atau sesudah makan.
6. Makan makanan berkarbohidrat. Bentuknya tidak harus nasi, tetapi juga biskuit, roti bakar, atau sereal kering.
7. Siapkan es, air dan perasan jeruk lemon, kemudian blender. Minuman ini bisa menghilangkan dehidrasi; selain itu efek lemon juga menghilangkan rasa mual karena rasa asamnya.
"Sayang, Kita Kapan Nikahnya?"
Bertahun-tahun menjalin hubungan cinta tanpa kejelasan arah memang bisa bikin siapa saja jadi senewen. Hanya saja, bagaimana cara yang tepat untuk mengajak si dia melangkah ke pelaminan? Efektifkan strategi memberikan deadline dan ultimatum agar dia lekas-lekas menentukan sikap?
Jangan Ragu Mencari Kepastian
Menginjak usia tertentu, sebenarnya setiap orang sudah bisa mengetahui, atau paling tidak bisa mengira-ngira tentang apa yang hendak dicarinya ketika menjalin hubungan. Menurut Roslina Verauli, psikolog dari RS Pondok Indah Jakarta, pada umur sekitar 20 tahunan, rata-rata perempuan sudah mencari kekasih untuk dijadikan calon pendamping hidup.
"Untuk masalah pernikahan, perempuan memiliki patokan berupa 'biological clock' dan '
sociological clock'," ujar Roslina yang akrab dipanggil Vera. Yang pertama adalah kondisi tubuh secara biologis, yang akan memengaruhi kemungkinan perempuan tersebut untuk memiliki keturunan. Yang kedua adalah batas usia tertentu yang menurut pandangan masyarakat sudah mencapai kesiapan umur untuk menikah.
Menurut Vera, jika memang Anda sudah lelah melakukan petualangan cinta dan merasa sudah waktunya menemukan pendamping hidup, maka tak perlu menunggu lama untuk menjajaki ke mana sebenarnya hubungan cinta Anda akan mengarah, "Ajak pasangan berdiskusi mengenai masa depan hubungan. Jangan ragu, karena ini semata-mata adalah demi kebaikan diri Anda dan dia. Setiap orang berhak memilih yang terbaik dalam hidupnya, bukan?" Vera meyakinkan.
It's Complicated = Bermasalah dengan Komitmen
Sebagai langkah awal, Anda bisa terlebih dulu menakar kesiapan pasangan dengan mengajaknya berdiskusi tentang masa depannya sendiri. "Tanyakan apa yang ada dalam rencananya dalam waktu beberapa tahun ke depan. Jika dia hanya berbicara tentang karier atau kehidupan pribadi tanpa mengungkit keinginannya untuk berkeluarga, maka besar kemungkinan ia memang belum ingin menikah. Terlebih apabila ia sering terlihat gugup atau mengalihkan topik obrolan yang mengarah pada pernikahan," ujar Vera.
Jika Anda memang berniat membawa hubungan ke tahap serius, katakan saja terus terang kepadanya. Secara baik-baik, tanyakan penyebab dia enggan menikah." Jangan percaya alasan 'belum mapan' atau 'ada masalah keluarga'. Boleh jadi alasan sebenarnya adalah karena dia merasa Anda bukan perempuan yang cocok, dia punya perempuan idaman lain, atau karena kekasih Anda mengidap sindrom peter pan complex, yang membuatnya menghindari tanggung jawab dan ingin selamanya bebas dari kewajiban," kata Vera.
Yang harus dilakukan selanjutnya adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah Anda bersedia terus menjalani hubungan yang tidak mengarah ke mana-mana, alias hubungan berstatus "it's complicated", seperti status dalam situs Facebook? Pasalnya, menurut Vera, sebenarnya suatu hubungan cinta yang sehat tidak akan pernah berkembang menjadi hubungan yang rumit atau complicated, apabila salah satu pihak tidak memiliki masalah dalam berkomitmen dengan pasangannya.
Lebih Efektif Mengultimatum Diri Sendiri
Lantas, bolehkah memberikan ultimatum kepada pasangan yang masih memiliki pendirian tidak tetap soal pernikahan? "Sebenarnya, berdiskusi itu lebih efektif ketimbang memberikan ultimatum. Pasalnya, dengan berdiskusi, Anda bisa mencari tahu akar permasalahan yang membuat si dia enggan menikah. Lagipula, bukankah akan lebih afdol apabila sebuah komitmen dilandasi oleh niat baik dari kedua belah pihak, ketimbang didasari sebuah paksaan?" kata Vera.
Namun, apabila diskusi dengannya tak kunjung sampai pada titik yang Anda harapkan, maka sah-sah saja memberikan ultimatum kepadanya. Misal, "Kalau kamu tidak berniat menikahi saya, lebih baik kita putus saja," jika ia minta waktu untuk berpikir, maka berikanlah tenggat waktu yang kira-kira cukup baginya. Bersikaplah tegas untuk melaksanakan konsekuensi yang Anda katakan apabila tenggat waktu itu usai dan dia masih belum juga menentukan sikap. Artinya, menyudahi hubungan Anda dengannya.
"Ketegasan sikap tersebut menentukan nilai diri Anda di hadapan pasangan dan seberapa besar Anda menghargai diri sendiri. Apabila Anda sampai berulang kali memberikan ultimatum dan berulang kali pula tidak menaati konsekuensinya, maka ultimatum Anda berikutnya tak ubahnya menjadi sebuah ancaman kosong," ucap Vera.
Makanya, akan lebih efektif apabila Anda memberikan ultimatum kepada diri sendiri. Berikan tenggat waktu kepada diri Anda sendiri untuk menanti kesiapan pasangan. Bila ia memang tidak mampu memenuhi harapan Anda, maka tak perlu mengulur waktu untuk berpaling ke lain hati. Jangan takut menyesal dan khawatir tidak menemukan pria pengganti yang sekualitas. Lebih baik menjajal kemungkinan baru ketimbang memaksakan diri berada di samping pria yang tak berniat mendampingi Anda seumur hidup, kan
Jangan Ragu Mencari Kepastian
Menginjak usia tertentu, sebenarnya setiap orang sudah bisa mengetahui, atau paling tidak bisa mengira-ngira tentang apa yang hendak dicarinya ketika menjalin hubungan. Menurut Roslina Verauli, psikolog dari RS Pondok Indah Jakarta, pada umur sekitar 20 tahunan, rata-rata perempuan sudah mencari kekasih untuk dijadikan calon pendamping hidup.
"Untuk masalah pernikahan, perempuan memiliki patokan berupa 'biological clock' dan '
sociological clock'," ujar Roslina yang akrab dipanggil Vera. Yang pertama adalah kondisi tubuh secara biologis, yang akan memengaruhi kemungkinan perempuan tersebut untuk memiliki keturunan. Yang kedua adalah batas usia tertentu yang menurut pandangan masyarakat sudah mencapai kesiapan umur untuk menikah.
Menurut Vera, jika memang Anda sudah lelah melakukan petualangan cinta dan merasa sudah waktunya menemukan pendamping hidup, maka tak perlu menunggu lama untuk menjajaki ke mana sebenarnya hubungan cinta Anda akan mengarah, "Ajak pasangan berdiskusi mengenai masa depan hubungan. Jangan ragu, karena ini semata-mata adalah demi kebaikan diri Anda dan dia. Setiap orang berhak memilih yang terbaik dalam hidupnya, bukan?" Vera meyakinkan.
It's Complicated = Bermasalah dengan Komitmen
Sebagai langkah awal, Anda bisa terlebih dulu menakar kesiapan pasangan dengan mengajaknya berdiskusi tentang masa depannya sendiri. "Tanyakan apa yang ada dalam rencananya dalam waktu beberapa tahun ke depan. Jika dia hanya berbicara tentang karier atau kehidupan pribadi tanpa mengungkit keinginannya untuk berkeluarga, maka besar kemungkinan ia memang belum ingin menikah. Terlebih apabila ia sering terlihat gugup atau mengalihkan topik obrolan yang mengarah pada pernikahan," ujar Vera.
Jika Anda memang berniat membawa hubungan ke tahap serius, katakan saja terus terang kepadanya. Secara baik-baik, tanyakan penyebab dia enggan menikah." Jangan percaya alasan 'belum mapan' atau 'ada masalah keluarga'. Boleh jadi alasan sebenarnya adalah karena dia merasa Anda bukan perempuan yang cocok, dia punya perempuan idaman lain, atau karena kekasih Anda mengidap sindrom peter pan complex, yang membuatnya menghindari tanggung jawab dan ingin selamanya bebas dari kewajiban," kata Vera.
Yang harus dilakukan selanjutnya adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah Anda bersedia terus menjalani hubungan yang tidak mengarah ke mana-mana, alias hubungan berstatus "it's complicated", seperti status dalam situs Facebook? Pasalnya, menurut Vera, sebenarnya suatu hubungan cinta yang sehat tidak akan pernah berkembang menjadi hubungan yang rumit atau complicated, apabila salah satu pihak tidak memiliki masalah dalam berkomitmen dengan pasangannya.
Lebih Efektif Mengultimatum Diri Sendiri
Lantas, bolehkah memberikan ultimatum kepada pasangan yang masih memiliki pendirian tidak tetap soal pernikahan? "Sebenarnya, berdiskusi itu lebih efektif ketimbang memberikan ultimatum. Pasalnya, dengan berdiskusi, Anda bisa mencari tahu akar permasalahan yang membuat si dia enggan menikah. Lagipula, bukankah akan lebih afdol apabila sebuah komitmen dilandasi oleh niat baik dari kedua belah pihak, ketimbang didasari sebuah paksaan?" kata Vera.
Namun, apabila diskusi dengannya tak kunjung sampai pada titik yang Anda harapkan, maka sah-sah saja memberikan ultimatum kepadanya. Misal, "Kalau kamu tidak berniat menikahi saya, lebih baik kita putus saja," jika ia minta waktu untuk berpikir, maka berikanlah tenggat waktu yang kira-kira cukup baginya. Bersikaplah tegas untuk melaksanakan konsekuensi yang Anda katakan apabila tenggat waktu itu usai dan dia masih belum juga menentukan sikap. Artinya, menyudahi hubungan Anda dengannya.
"Ketegasan sikap tersebut menentukan nilai diri Anda di hadapan pasangan dan seberapa besar Anda menghargai diri sendiri. Apabila Anda sampai berulang kali memberikan ultimatum dan berulang kali pula tidak menaati konsekuensinya, maka ultimatum Anda berikutnya tak ubahnya menjadi sebuah ancaman kosong," ucap Vera.
Makanya, akan lebih efektif apabila Anda memberikan ultimatum kepada diri sendiri. Berikan tenggat waktu kepada diri Anda sendiri untuk menanti kesiapan pasangan. Bila ia memang tidak mampu memenuhi harapan Anda, maka tak perlu mengulur waktu untuk berpaling ke lain hati. Jangan takut menyesal dan khawatir tidak menemukan pria pengganti yang sekualitas. Lebih baik menjajal kemungkinan baru ketimbang memaksakan diri berada di samping pria yang tak berniat mendampingi Anda seumur hidup, kan
Langganan:
Postingan (Atom)
