Si kecil tidak pernah absen mengompol tiap malam. Anda sudah kehabisan akal untuk mengubah kebiasaannya. Padahal, anak-anak seusianya mungkin sudah tidak ada lagi yang membawa kebiasaan ini.
Mengompol digolongkan sebagai kelainan saluran kemih tingkat dasar atau menengah. Tingkatan ini bergantung pada tinggi atau rendahnya kebiasaan mengompol. Mengompol tingkat rendah, yang biasanya dialami anak usia mencapai 5 tahun, umumnya tidak setiap hari terjadi. Sedangkan tingkat menengah bisa terjadi hampir setiap hari.
Mengompol bisa disebabkan oleh beberapa faktor:
* Kandung kemih kecil sehingga tidak cukup untuk menampung urine.
* Kandung kemih tidak mampu untuk menekan dan menahan jumlah urine yang masuk.
* Si kecil terlambat atau sulit bangun saat kandung kemih penuh.
Mengompol bisa membuat orangtua dan anak tertekan. Orangtua akan merasa kerepotan jika harus sering mencuci alas seprai dan harus selalu mengontrol kebiasaan buruk anak. Sebaliknya, anak akan merasa malu dan tak berdaya karena tak mampu bangun pada waktunya untuk buang air kecil. Karena itu, orangtua seharusnya justru bisa memahami dan membantu si kecil.
Anda bisa menemui dokter anak untuk mencari tahu apakah anak memiliki gangguan berkemih. Cara lainnya, bisa dengan membiasakan anak buang air kecil sebelum tidur. Jangan memberikan minuman lagi saat ia sudah di atas tempat tidur. Cari tahu, jam berapa ia umumnya mengompol. Buat semacam jam pengingat bagi Anda dan si kecil untuk bangun dan pergi ke kamar mandi.
Jumat, 26 Maret 2010
Melatih Si Kecil Berbicara
Setiap orangtua pasti ingin mendengar kata-kata pertama yang diucapkan si kecil. Meskipun begitu, Anda tidak harus terburu-buru memintanya untuk menirukan kata-kata Anda. Biarkan ia berbicara pada saatnya, yang harus Anda lakukan adalah memancingnya untuk mau berbicara.
''Bayi usia 4-6 bulan sudah mulai mengeluarkan suara-suara, meskipun belum jelas,'' ujar Mellisa Essenburg, MS, CC, SLP, speech pathologist dari San Diego.
Bayi usia 0-12 bulan memiliki tahap-tahap berbicara hingga ia bisa mengucapkan kata-kata yang memiliki arti. Hal ini dimulai pada usia 0-3 bulan, ketika bayi mengeluarkan suara seperti menangis dan tertawa. Usia 4-6 bulan, bayi akan mengeluarkan suara dua kata yang diulang-ulang seperti dadada, bababa, papapa. Usia 6-9 bulan, bayi akan mengabungkan beberapa kata.
Kemampuannya berbicara akan lebih meningkat di usia 10-12 bulan. Dia akan mulai menirukan kata-kata yang Anda ucapkan namun tidak persis sama. Kemampuannya berbicara akan semakin baik pada usia 10-18 bulan.
Berikut cara menggugah si kecil mau berbicara:
1. Tanggapi ocehannya
Si kecil mengeluarkan suara? Jangan ragu untuk menanggapinya. Anda bisa berpura-pura menanyakan maksud ocehannya sambil tertawa atau tersenyum. Perlihatkan wajah bahagia Anda, kemudian lihat reaksinya.
2. Tunjukkan ekspresi
Ajak ia untuk bercanda sambil berbicara. Contohnya dengan menggelitik, mencium, atau menggenggam tangannya. Bicarakan semua hal yang berhubungan dengan diri Anda atau si kecil. Contohnya, "Wah, adik pintar ya. Minum susunya sampai habis!"
3. Datangi saat menangis
Jangan berdiam diri saat melihat si kecil menangis. Datangi, Tatap matanya, lalu langsung tanyakan, misalnya, "Kenapa menangis, Nak?" Cara ini akan membuat si kecil paham, bahwa ketika ia menangis, ibu akan bertanya padanya. Maka, ia pun harus merespons dengan jawaban.
4. Ajak mengobrol
Ceritakan kegiatan yang sedang atau akan Anda lakukan bersamanya. Saat mengganti popoknya atau akan mengajaknya makan, katakan, misalnya, "Ayo kita ganti popok ya, sayang, udah basah nih". Lalu ceritakan apa yang Anda sedang lakukan bersamanya. Si kecil akan makin terbiasa, dan mengerti saat Anda mengajaknya berbicara.
5. Menyanyi untuknya
Nyanyikan lagu saat Anda menggendongnya, mengajak tidur, atau mandi. Lakukan terus-menerus supaya si kecil terbiasa mendengarnya. Selanjutnya, ia akan mencoba menirukan Anda.
6. Membacakan cerita
Biasakan membacakan cerita sebelum si kecil tertidur. Otaknya akan merespons dan menyimpannya ke dalam memori saat ia tertidur. Pangku si kecil, perlihatkan buku cerita berwarna-warni, dan bacakan cerita. Si kecil akan langsung merespons dengan menunjuk buku yang Anda pegang.
7. Ceritakan kegiatannya
Contohnya saat ia menggenggam makanan, boneka, atau mainan lainnya. Sebutkan apa yang sedang dipegangnya, supaya ia belajar mengenali benda-benda. "Pegang apa itu, Nak? Boneka, ya?". Atau, "Ibu bikin bubur nih, buat adik. Enak, kan?" Lakukan hal yang sama saat ia sedang melakukan aktivitasnya.
8. Terus mengulang
Lakukan terus hal-hal yang melibatkan Anda berdua dalam setiap kesempatan. Saat ia mulai menirukan suara Anda, ulangi juga kata-kata tersebut.
''Bayi usia 4-6 bulan sudah mulai mengeluarkan suara-suara, meskipun belum jelas,'' ujar Mellisa Essenburg, MS, CC, SLP, speech pathologist dari San Diego.
Bayi usia 0-12 bulan memiliki tahap-tahap berbicara hingga ia bisa mengucapkan kata-kata yang memiliki arti. Hal ini dimulai pada usia 0-3 bulan, ketika bayi mengeluarkan suara seperti menangis dan tertawa. Usia 4-6 bulan, bayi akan mengeluarkan suara dua kata yang diulang-ulang seperti dadada, bababa, papapa. Usia 6-9 bulan, bayi akan mengabungkan beberapa kata.
Kemampuannya berbicara akan lebih meningkat di usia 10-12 bulan. Dia akan mulai menirukan kata-kata yang Anda ucapkan namun tidak persis sama. Kemampuannya berbicara akan semakin baik pada usia 10-18 bulan.
Berikut cara menggugah si kecil mau berbicara:
1. Tanggapi ocehannya
Si kecil mengeluarkan suara? Jangan ragu untuk menanggapinya. Anda bisa berpura-pura menanyakan maksud ocehannya sambil tertawa atau tersenyum. Perlihatkan wajah bahagia Anda, kemudian lihat reaksinya.
2. Tunjukkan ekspresi
Ajak ia untuk bercanda sambil berbicara. Contohnya dengan menggelitik, mencium, atau menggenggam tangannya. Bicarakan semua hal yang berhubungan dengan diri Anda atau si kecil. Contohnya, "Wah, adik pintar ya. Minum susunya sampai habis!"
3. Datangi saat menangis
Jangan berdiam diri saat melihat si kecil menangis. Datangi, Tatap matanya, lalu langsung tanyakan, misalnya, "Kenapa menangis, Nak?" Cara ini akan membuat si kecil paham, bahwa ketika ia menangis, ibu akan bertanya padanya. Maka, ia pun harus merespons dengan jawaban.
4. Ajak mengobrol
Ceritakan kegiatan yang sedang atau akan Anda lakukan bersamanya. Saat mengganti popoknya atau akan mengajaknya makan, katakan, misalnya, "Ayo kita ganti popok ya, sayang, udah basah nih". Lalu ceritakan apa yang Anda sedang lakukan bersamanya. Si kecil akan makin terbiasa, dan mengerti saat Anda mengajaknya berbicara.
5. Menyanyi untuknya
Nyanyikan lagu saat Anda menggendongnya, mengajak tidur, atau mandi. Lakukan terus-menerus supaya si kecil terbiasa mendengarnya. Selanjutnya, ia akan mencoba menirukan Anda.
6. Membacakan cerita
Biasakan membacakan cerita sebelum si kecil tertidur. Otaknya akan merespons dan menyimpannya ke dalam memori saat ia tertidur. Pangku si kecil, perlihatkan buku cerita berwarna-warni, dan bacakan cerita. Si kecil akan langsung merespons dengan menunjuk buku yang Anda pegang.
7. Ceritakan kegiatannya
Contohnya saat ia menggenggam makanan, boneka, atau mainan lainnya. Sebutkan apa yang sedang dipegangnya, supaya ia belajar mengenali benda-benda. "Pegang apa itu, Nak? Boneka, ya?". Atau, "Ibu bikin bubur nih, buat adik. Enak, kan?" Lakukan hal yang sama saat ia sedang melakukan aktivitasnya.
8. Terus mengulang
Lakukan terus hal-hal yang melibatkan Anda berdua dalam setiap kesempatan. Saat ia mulai menirukan suara Anda, ulangi juga kata-kata tersebut.
Kejang Demam Bisa Ganggu Kecerdasan
Stuip (dibaca: step) atau lebih dikenal dengan istilah kejang demam sering kali timbul bila suhu tubuh anak meninggi (demam). Kondisi ini sering dialami anak-anak berusia kurang dari lima tahun dan akan hilang dengan sendirinya begitu anak berusia lima tahun.
Kejang demam ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama adalah yang berlangsung singkat namun diawali demam. Sementara itu, yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal (hanya sebagian tubuh yang kejang) dan multiple (lebih dari satu kali kejang per episode), disebut sebagai kejang demam kompleks. Kejang demam kompleks lebih berisiko menjadi epilepsi.
Kejang demam, menurut dr Hanif Tobing, ahli bedah saraf dari Departemen Bedah Saraf FKUI/RSCM Jakarta, terjadi karena lompatan listrik yang berlebihan pada sel otak. "Lompatan listrik yang berlebihan ini bisa disebabkan karena demam tinggi, adanya tumor di otak, atau karena ada kelainan metabolik," paparnya.
Sebagian besar stuip pada anak tidak berbahaya. Namun, yang harus diwaspadai orangtua adalah bila kejang sampai berulang dan terjadinya epilepsi. Ciri-ciri munculnya epilepsi adalah bila anak mengalami kejang tanpa disertai demam.
Selain itu, menurut dr Hanif, stuip yang lama dan berulang bisa merusak otak anak. "Kejang yang lama bisa menyebabkan hipoksia (kekurangan oksigen). Bila terjadi terlalu lama, jaringan otak yang rusak bisa ribuan. Akibatnya, anak bisa menjadi bodoh atau epilepsi," tuturnya.
Penelitian menunjukkan, stuip lebih banyak terjadi pada anak yang memiliki riwayat keluarga dengan kejang demam atau anak yang perkembangannya terlambat. Jika ada riwayat kesehatan keluarga, maka orangtua bisa melakukan tindakan pencegahan. "Usahakan agar suhu tubuh anak tidak terlalu tinggi. Langsung berikan obat penurun panas atau obat antikejang," saran dr Hanif.
Yang penting orangtua tidak perlu panik saat anak mengalami kejang. Bila anak mengalami kejang, langkah berikut bisa menolongnya terhindar dari cedera:
- Baringkan anak pada posisi tengkurap atau miring, bukan telentang.
- Singkirkan semua benda tajam atau keras yang ada di dekatnya.
- Longgarkan pakaian yang ketat atau menghalangi gerakannya.
- Jangan menahan atau ikut campur dengan gerakan anak.
- Tidak boleh menaruh benda, seperti sendok atau tangan, di antara rahang anak.
- Segera berikan obat untuk menghentikan kejang yang diberikan melalui dubur.
- Setelah kejang berlalu dan anak terbangun, berilah obat penurun panas atau bawalah ke dokter.
AN
Kejang demam ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama adalah yang berlangsung singkat namun diawali demam. Sementara itu, yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal (hanya sebagian tubuh yang kejang) dan multiple (lebih dari satu kali kejang per episode), disebut sebagai kejang demam kompleks. Kejang demam kompleks lebih berisiko menjadi epilepsi.
Kejang demam, menurut dr Hanif Tobing, ahli bedah saraf dari Departemen Bedah Saraf FKUI/RSCM Jakarta, terjadi karena lompatan listrik yang berlebihan pada sel otak. "Lompatan listrik yang berlebihan ini bisa disebabkan karena demam tinggi, adanya tumor di otak, atau karena ada kelainan metabolik," paparnya.
Sebagian besar stuip pada anak tidak berbahaya. Namun, yang harus diwaspadai orangtua adalah bila kejang sampai berulang dan terjadinya epilepsi. Ciri-ciri munculnya epilepsi adalah bila anak mengalami kejang tanpa disertai demam.
Selain itu, menurut dr Hanif, stuip yang lama dan berulang bisa merusak otak anak. "Kejang yang lama bisa menyebabkan hipoksia (kekurangan oksigen). Bila terjadi terlalu lama, jaringan otak yang rusak bisa ribuan. Akibatnya, anak bisa menjadi bodoh atau epilepsi," tuturnya.
Penelitian menunjukkan, stuip lebih banyak terjadi pada anak yang memiliki riwayat keluarga dengan kejang demam atau anak yang perkembangannya terlambat. Jika ada riwayat kesehatan keluarga, maka orangtua bisa melakukan tindakan pencegahan. "Usahakan agar suhu tubuh anak tidak terlalu tinggi. Langsung berikan obat penurun panas atau obat antikejang," saran dr Hanif.
Yang penting orangtua tidak perlu panik saat anak mengalami kejang. Bila anak mengalami kejang, langkah berikut bisa menolongnya terhindar dari cedera:
- Baringkan anak pada posisi tengkurap atau miring, bukan telentang.
- Singkirkan semua benda tajam atau keras yang ada di dekatnya.
- Longgarkan pakaian yang ketat atau menghalangi gerakannya.
- Jangan menahan atau ikut campur dengan gerakan anak.
- Tidak boleh menaruh benda, seperti sendok atau tangan, di antara rahang anak.
- Segera berikan obat untuk menghentikan kejang yang diberikan melalui dubur.
- Setelah kejang berlalu dan anak terbangun, berilah obat penurun panas atau bawalah ke dokter.
AN
Langganan:
Postingan (Atom)
